11.10.11

Makanan Ringan Lokal - Tiwul


TIWUL

Bahan :
æ   2,5 Kg Singkong (Tepung Gaplek 1500 gram)
æ   500 gram Gula Merah
æ   2 buah Kelapa Parut
æ   Air
æ   Garam secukupnya


Cara membuat :
1.      Kupas dan cuci singkong hingga bersih. Iris tipis.
2.      Kemudian dikeringkan diawah sinar matahari selama kurang lebih 2-3 hari sehingga menjadi gaplek.
3.      Haluskan gaplek dengan cara di tumbuk untuk mendapatkan tepung yang halus
4.      Campur air dengan garam. Kemudian taruh tepung gaplek dalam satu tempat lalu perciki dengan air sambil diaduk-aduk hingga adonan berbutir seperti pasir, sisihkan.
5.      Tambahkan gula merah sambil diaduk sampai rata.
6.      Kukus dalam dandang sampai matang.
7.      Sajikan tiwul bersama kelapa parut.
(Biasanya menjual sebanyak ± 30 bungkus sehari @ Rp 2.000,-/bungkus)

B.     Penentuan Harga
Bahan
Berat
Harga (Rp)
Singkong
2,5 Kg
12500
Gula merah
500 gram
5000
Kelapa parut
2 buah
8000
Air
secukupnya
-
Garam
secukupnya
500
Total
26000
Harga per Porsi
866

Ekosistem Akuatik - Rawa

Tugas Praktikum
Tanggal Mulai
  : 25 Maret 2011
Mata Kuliah Ekologi Pangan
Tanggal Selesai
  : 01 April 2011




EKOSISTEM AKUATIK (RAWA) SEBAGAI SUMBER
DAYA PANGAN PROTEIN HEWANI



Kelompok 10:
Irani Rachmawati                    I14104012
Anna Febritta Intan Sari          I14104023
Maharani Julfrina Rahma       I14104035






Asisten Praktikum:
A’immatul Fauziyah, S.Gz.
Yulia Puspita

Penanggung Jawab Praktikum:
Dr. Ir. Yayuk F.Baliwati, MS


DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011




PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah ketahanan pangan telah dijadikan agenda penting dalam pembangunan ekonomi bangsa. Status ketahanan pangan juga sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk pemenuhan ketahanan pangan tersebut dapat dilakukan dengan membangun suatu kawasan yang bertujuan menciptakan atau meningkatkan daya guna kawasan tersebut secara berkelanjutan. Menciptakan dayaguna dapat dilakukan pada kawasan alami, contohnya dengan mengembangkan rawa lebak dan rawa pening untuk usaha perikanan budidaya dan tangkap (Muthmainah  2009).
Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas. atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH, No 23 Tahun 1997) ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Zat-zat anorganik dalam suatu ekosistem tetap konstan atau seimbang karena unsur-unsur kimia esensial pembentuk protoplasma beredar dalam biosfer melalui siklus biogeokimiawi. Contoh siklus biogeokimiawi adalah siklus carbon, siklus oksigen, siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus sulfur (Irwan 1997).
Jumlah rawa di Indonesia luasnya sekitar 34 juta ha, dari jumlah tersebut yang berpotensi sebesar 60 persen. Rawa adalah perairan yang cukup luas terdapat di dataran rendah dengan sumber air berasal dari air hujan atau air laut dan berhubungan atau tidak berhubungan dengan sungai, relatif tidak dalam, mempunyai dasar lumpur atau tumbuhan membusuk, terdapat vegetasi baik yang mengapung atau mencuat maupun tenggelam. Rawa memiliki berbagai macam peran dan manfaat. Ditinjau dari aspek ekologi, rawa berperan sebagai sumber cadangan air, menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering, mencegah terjadinya banjir, sumber energi, dan sumber makanan nabati maupun hewani (Susanto  2000). 
Pemahaman dalam mengelola rawa sangatlah penting. Sebaiknya dengan mempertahankan fungsi ekologis kawasan tersebut dalam penggunaannya untuk keperluan kehidupan seperti pemukiman, pertanian, perikanan dan lain-lain. Pengelolaan yang bijaksana dengan melakukan penataan ruang, dan pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah dapat ditentukan mana kawasan rawa yang dapat dikelola dan yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya. Saat ini perikanan Indonesia dalam waktu yang relatif singkat telah mampu memberikan sumbangan yang substansial dalam pembangunan perekonomian. Secara keseluruhan, perikanan mempunyai peranan dan posisi vital dalam pemenuhan kebutuhan gizi protein, kesempatan kerja, penerimaan devisa dan pengembangan wilayah (Baharsyah 1990).

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.   Menjelaskan tentang ciri-ciri ekosistem air tawar, yaitu rawa.
b.   Menjelaskan tentang komponen dari ekosistem rawa.
c.   Menjelaskan fungsi ekologi ekosistem rawa.
d.   Menjelaskan potensi pangan yang terdapat pada ekosistem rawa.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Ciri-ciri Ekosistem Rawa Terhadap Pangan
Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan pH sekitar 6, kondisi permukaan air tidak selalu tetap. Ekosistem air tawar berupa rawa memiliki habitat dengan ciri-cirinya adalah variasi temperatur atau suhu rendah, kadar garam rendah, penetrasi cahaya yang kurang, dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar, dan memiliki tumbuhan tumbuhan tingkat tinggi (dikotil dan monokotil), tumbuhan tingkat rendah (alga, jamur, gulma, ganggang hijau) yang berfungsi sebagai produsen, serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani (Irwan 1997).
Rawa pening merupakan salah satu rawa yang ada di wilayah Kabupaten Semarang dengan luas genangan kurang lebih 2020 ha. Rawapening terletak pada ketinggian kurang lebih 463 meter dpl, dan berada di antara wilayah Kecamatan Banyubiru, Ambarawa, Bawen dan Tuntang. Pemanfaatan Rawa pening selain untuk perikanan, juga untuk kegiatan irigasi, wisata dan pembangkit tenaga listrik. Ekosistem rawa ini termasuk ekosistem air tenang (letik) berbeda dengan hutan rawa gambut, yaitu tidak terdapatnya kandungan gambut yang tebal dan sumber airnya berasal dari air  hujan dan air sungai. Ekosistem yang ada di rawa condong ke arah ekosistem yang subur, fluktuasi ketinggian air dapat menjaga stabilitas dan fertilitas air. Nutrisi yang terlarut  dalam air meningkatkan produktivitas. Bila terjadi pendangkalan, maka rawa cenderung untuk  ditumbuhi vegetasi berkayu.  Oleh karena itu peranan manusia penting didalam mengendalikan pendangkalan rawa (Arika  2005).
Rawa lebak di Sumatera Selatan yang dibudidayakan untuk pengembangan pertanian, termasuk perikanan. Luas rawa lebak yang digunakan untuk perikanan yaitu 92171 ha, terdiri dari lebak pematang, lebak tengahan, lebak dalam dan lebak lebung. Lebak pematang yaitu berupa sawah di belakang perkampungan yang merupakan sebagian dari wilayah tanggul sungai dan wilayah dataran rawa belakang. Lama genangan umumnya kurang dari 1-3 bulan dalam setahun. Tinggi genangan rata-rata kurang dari 50 cm. Lebak tengahan adalah sawah yang lebih jauh lagi dari perkampungan yang memiliki genangannya lebih dalam antara 50-100 cm selama 3-6 bulan (Muthmainnah  2009).
Bagian rawa lebak yang berpotensi di dunia perikanan adalah lebak dalam, karena bentuknya mirip suatu cekungan dan kondisi airnya relatif masih tetap dalam walaupun di musim kemarau. Hal ini sesuai untuk budidaya perikanan air tawar. Sedangkan lebak dangkal dan lebak tengahan hanya sesuai untuk pertanian tanaman pangan. Rawa lebak yang airnya sukar mengering kecuali pada musim kemarau panjang dan disebut juga lebak lebung. Biasanya dijadikan tempat memelihara ikan yang tertangkap. Tinggi air genangan umumnya lebih dari 100 cm selama 3-6 bulan atau lebih dari 6 bulan (Muthmainnah  2009).

Komponen Ekosistem Rawa
Komponen pembentuk ekosistem rawa ini terdiri dari abiotik dan biotik. Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang berupa medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Komponen abiotik dapat berupa suhu, air, garam, cahaya matahari, tanah dan batu, serta iklim. Komponen biotik atau disebut dengan komponen hidup adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Misalnya pada perairan rawa lebak lebung di Sumatera Selatan terdapat ikan nila (Oreochromis niloticus), betok (Anabas testudineus), sepat siam (Trichogaster pectoralis), gabus (Channa striata), ikan lele (Clarias spp), belut (Monopterus albus), dan berbagai jenis vegetasi air dari familia Graminae dan berbagai jenis pepohonan besar yang merupakan sumberdaya hayati yang sangat menentukan kehidupan hewan-hewan air (Irwan  1997).
Berdasarkan, peran dan fungsinya, makhluk hidup dalam ekosistem air tawar ini dibedakan menjadi tiga macam, yaitu autotrof, heterotrof, dan decomposer. Autotrof merupakan komponen produsen yang terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari bahan organik dengan bantuan energi seperti sinar matahari dan bahan kimia. Autotrof berperan sebagai produsen. Pada ekositem rawa ini yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil seperti gulma dan eceng gondok. Heterotrof adalah komponen yang terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan–bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Golongan heterotrof adalah manusia, hewan, jamur dan mikroba. Dekomposer atau disebut juga pengurai adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Golongan pengurai pada ekosistem ini adalah bentos yang berupa cacing darah atau larva chironomid (Susanto  2000).
Penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos tidak jauh berbeda dengan komponen biotik lainnya yaitu ditentukan  oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik perairan seperti pasang surut, kedalaman, kecepatan arus, warna, kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. Sifat kimia perairan antara lain, kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi biotik jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan  bentos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan  oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan (Irwan 1997).
Menurut penelitian tentang plankton di Rawa pening menyebutkan bahwa fitoplankton lebih banyak ditemukan di bagian permukan dan tengah . hal ini karena fitoplankton suka terhadap cahaya untuk proses fotosintesis. Sedangkan zooplankton lebih banyak ditemukan pada semua kedalaman air, karena mereka memiliki kemampuan untuk bergerak.  Organisme di Rawa pening misalnya Caridina laevis Heller (Udang air tawar) dan ikan nila. Pertumbuhan ikan misalnya sangat tergantung pada ketersediaan  pakannya khususnya pakan alami. Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, perifiton, dan bentos (Arika  2005).
Pada ekosistem ini, maka terbentuklah suatu rantai makanan. Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara makhluk hidup dengan urutan tertentu. Dalam rantai makanan ada makhluk hidup yang berperan sebagai konsumen, dan produsen.  Rantai makanan ini dimulai dari gulma atau lumut sebagai peghasil atau produsen yang dapat dimakan oleh komponen heterotrof berupa ikan nila. Pakan Alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila, seperti pitoplankton dan zooplankton. Selain itu ikan nila adalah jenis ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora). Komponen heterotrof yang mati diuraikan oleh dekomposer yang ada di air tawar berupa cacing dengan bantuan sinar matahari membentuk komponen baru autotrof seperti gulma. Keberadaan dekomposer sangat penting dalam ekosistem. Hewan atau tumbuhan yang telah mati akan diuraikan oleh dekomposer dan dikembalikan ke tanah menjadi unsur hara (zat anorganik) yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Aktivitas pengurai juga menghasilkan gas karbondioksida yang penting bagi fotosintesis. Proses rantai makanan ini selalu berjalan untuk mempertahankan kehidupan pada ekositem air rawa. Akan tetapi, siklus dalam rantai makanan dapat berjalan seimbang apabila semua komponen tersedia. Apabila salah satu komponen didalamnya tidak ada maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan dalam rantai makanan tersebut (Susanto  2000).

Fungsi Ekologi Ekosistem Rawa
Pengelolaan sumber daya di Rawa pening, terjadi pembagian wilayah (zonasi), pembagian wilayah bertujuan agar semua kegiatan pemanfaatan sumber daya tidak merusak kelestarian dan tidak merugikan karena berbagai kepentingan.  Rawa pening merupakan waduk tertua di Indonesia, yang semula merupakan rawa gambut tetapi dibendung pada tahun 1916 dan setelah diperbesar pada tahun 1930 dibendung sekali lagi (Arika 2005). Berikut ini merupakan gambar Rawa pening dapat dilihat pada Gambar 1.
 

Gambar 1  Rawa Pening, Semarang

Luas genangan Rawa pening sekitar 24,5 persen atau 613 hektar ditumbuhi eceng gondok dan gulma lainnya. Luasan tutupan eceng gondok ini lebih luas lagi karena kemampuan berkembangnya 2,6 kali lipat lebih cepat di perairan bebas, hal ini menyebabkan nelayan semakin sulit mencari ikan karena laju perahu terhambat eceng gondok. Penetrasi cahaya ke perairan terhambat dan populasi ikan menjadi menurun karena konsentrasi oksigen menurun. Akan tetapi sedimentasi akibat gulma air bisa dijadikan pupuk yang diambil dari dasar danau. Gulma air secara ekologis berperan sebagi tempat berlindung dari fauna-fauna dibawahnya dan sebagai penyerap logam berat sehingga ekosistem rawa tersebut dapat mengurangi bahan pencemar (Arika 2005).
Perairan Rawa pening mempunyai fungsi hidrologis sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat agar tidak langsung membanjiri daratan rendah di hilir rawa. Dalam hal ini rawa berfungsi untuk mengurangi besarnya fluktuasi aliran air yang mengalir di perairan sama seperti fungsi hutan di daerah pegunungan. Rawa adalah regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. Fungsi regulator kontuinitas aliran air ini  sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa (Arika  2005).
Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki berbagai jenis vegetasi air Vegetasi air ini melalui proses fotosintesis merupakan penghasil energi untuk metabolisme dalam kehidupan sehari-hari serta merupakan sumber energi untuk produksi sekunder. Dalam proses fotosintesa dihasilkan oksigen untuk pernafasan hewani yang hidup dalam ekosistem tersebut. Sumberdaya hayati dalam ekosistem perairan lebak merupakan sumberdaya terbaru, dimana dalam proses pembaruan diri materi mengalami daur ulang. Dengan pendauran itu menjadikan proses pemurnian diri lingkungan karena bahan sisa dari suatu proses akan digunakan sebagai bahan baku untuk proses yang lain yang menghasilkan zat yang berguna bagi organism yang bersangkutan. Apabila dinamika ini terjaga dengan baik akan selalu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan dan kelestarian sumberdaya perikanan sepanjang tahun (Gaffar  1998).
Perubahan musim hujan dan musim kemarau yang terjadi sepanjang tahun mengakibatkan perairan rawa lebak terdapat beberapa tipe sub habitat penting antara lain talang rawang dan lebak kumpai. Di dalam talang rawang dan lebak kumpai terdapat lagi tipe habitat yang disebut lebung. Lebung merupakan sub habitat penting karena merupakan tempat perlindungan dan penyelamatan ikan-ikan ekonomis penting tertentu pada saat datangnya musim kemarau (Gaffar  1998).
           
Perikanan sebagai Sumber Daya Pangan
Perikanan perairan rawa lebak sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang bersifat terbuka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen sebagai sumber pangan protein hewani. Pengelolaan perikanan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang. Perairan rawa lebak dimanfaatkan selain untuk bidang pertanian, juga budidaya perikanan karena dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan daya jual yang bernilai tinggi. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan pada ekosistem ini adalah ikan nila (Gaffar  1998).
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia, terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat dinegara-negara yang sedang berkembang. Ikan nila termasuk kedalam Eurihaline yaitu ikan yang mampu hidup dalam kisaran salinitas yang luas antara 5-45 ppm dan mempunyai alat pernapasan tambahan (abyrinthichi) berfungsi untuk mempertahankan diri untuk hidup didalam air yang kandungan oksigennya rendah. Ikan nila juga mempunyai kelebihan antara lain mudah berkembang biak, mempunyai tingkat toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi sehingga tahan terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit, dan pemakan segala (Omnivora) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air (Afliyah  1993).
Ikan nila adalah salah satu komoditas perikanan yang sangat popular dimasyarakat, karena harganya murah rasanya enak dan kandungan proteinnya cukup tinggi. Kandungan zat gizi ikan nila dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal, protein 17 gram, lemak 4,5 gram dan vitamin A 150 SI. Asam lemak tidak jenuh ganda pada ikan nila menyebabkan ikan menjadi sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis dan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin sehingga menyebabkan timbulnya bau tidak sedap atau tengik. Bentuk tubuh ikan nila secara umum adalah memanjang dan pipih kesamping, warna agak putih kehitaman, semakin kebagian ventral atau perut makin terang. Berikut ini merupakan gambar ikan nila dapat dilihat pada Gambar 2.
 
Gambar 2  Ikan Nila Betina
Menurut Badan Pusat Statistika Sumatera Selatan (2008), Jumlah masyarakat sekitar rawa lebak di Sumatera Selatan adalah 365.333 orang. Hasil produksi ikan nila yang dihasilkan setiap 3 bulan sekali dengan berat berkisar 23043 ton (@350 gram) yaitu jumlah panen dibagi jumlah waktu panen dan dikalikan 30 per hari, sehingga hasil produksi sehari diperoleh 192000 kg atau 549 ekor ikan nila. Kandungan energi dan protein ikan nila dalam ekosistem rawa lebak di Sumatera Selatan sebagai sumber daya pangan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1  Kandungan Energi dan Protein Ikan Nila Per Kapita Per Hari
Pangan
Produksi sehari (gram)
Jumlah orang
BDD %
Energi & Protein /100g
Energi Kap/ Hari
E (Kal)
P (g)
E (Kal)
P (g)
Ikan Nila
691,22
365.333
0,80
113
17
625
94,0

              Berdasarkan hasil tabel 1, kandungan energi dari ikan nila yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar rawa sebesar 625 kal dan kandungan proteinnya adalah 94,0 gram. Besarnya daya dukung ikan nila di rawa lebak Sumatera Selatan tersebut dapat dihitung dengan menghitung terlebih dahulu jumlah komoditas (ton) per tahunnya, kemudian menghitung komoditas (gram) dalam sehari, dan langkah terakhir menghitung kandungan energi dan zat gizi ikan nila yang dapat dimanfaatkan penduduk di rawa tersebut. 
Berdasarkan hasil perhitungan, rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki daya dukung ekosistem sebesar 254 persen. Ini menunjukkan bahwa ekosistem rawa terutama dari komoditas ikan nila tersebut memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak khusunya untuk sumber daya pangan protein hewani.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Ekosistem rawa memiliki ciri-ciri antara lain suhu rendah, kadar garam rendah, penetrasi cahaya yang kurang, dipengaruhi iklim dan cuaca di sekitar, dan memiliki tumbuhan seperti jamur, gulma, alga yang berfungsi sebagai produsen, serta memiliki ikan air tawar yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan protein hewani. Rawa pening dan lebak tergolong ekosistem air tenang (letik) dan sumber airnya berasal dari air  hujan dan air sungai.
Komponen pembentuk ekosistem rawa terdiri dari abiotik dan biotik. Komponen abiotik dapat berupa suhu, air, garam, cahaya matahari, tanah dan batu, serta iklim. Komponen biotik seperti gulma, eceng gondok, mikroorganisme pengurai, udang dan ikan nila. Setiap komponen tersebut membentuk suatu rantai makanan.
Rawa pening sebagai kawasan penyangga untuk menampung air dalam jumlah besar yang berasal dari curahan hujan lebat dan sebagai regulator aliran air tetapi daya tampung rawa jauh lebih besar. Fungsi regulator untuk kontuinitas aliran air, sehingga sangat penting bagi makhluk hidup termasuk manusia yang berdiam di hilir rawa. Peningkatan jumlah gulma seperti eceng gondok di rawa pening menyebabkan penurunan jumlah ikan air tawar. Akan tetapi, Gulma air secara ekologis berperan mengurangi bahan pencemar. Perubahan musim di Rawa Lebak menyebabkan ada bagian tipe habitat yaitu lebung yang digunakan sebagai tempat perlindungan ikan.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam ekosistem rawa lebak digunakan sebagai sumber pangan dalam ekosistem rawa yaitu dalam 100 gram menghasilkan energi 113 Kal, protein 17 gram, lemak 4,5 gram dan vitamin A 150 SI. kandungan energi per kapita per hari adalah 625 kalori dan kandungan protein per kapita per hari adalah 94,0 gram. Rawa lebak di Sumatera Selatan memiliki potensi pangan bagi masyarakat sekitar rawa lebak karena daya dukung ekosistemnya sebesar 254 persen.

Saran
Jumlah eceng gondok yang meningkat di ekosistem rawa pening yang menggangu keseimbangan ekosistem sehingga perlu adanya penanganan seperti konservasi rawa atau memberi kontrol biologis seperti memberi ikan grass capr yang memakan eceng gondok.
DAFTAR PUSTAKA

Afliyah S. 1993. Laporan Tahunan Perikanan Tahun 1992. Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Selatan. Palembang.

Arika,  Y. 2005. Rawapening  dan Berubahnya Ekosistem.  http://www. Kompas.
Com/kompas-cetak/0505/27/tanah air/1767459.html. [27 Maret 2011].

Baharsyah S. 1990. Pidato Pengarahan Menteri Muda Pertanian dalam Forum I Perikanan, Sukabumi, 19-20 Juli 1990. Badan Litbang Pertanian-Puslitbangkan-USAID/FRDP.

BPS Provinsi Sumatera Selatan. 2008. Sumatera Selatan dalam Angka 2008. BPS Sumatera Selatan.

Gaffar AK. 1998. Pengelolaan Perikanan Perairan Umum. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Pengelolaan Lebak Lebung Berbasis Komunitas. Palembang. 10 hal.

Irwan D. 1997. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem & Komunitas Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.

Muthmainah D. 2009. Pendekatan Holistik dalam Pencegahan dan Pengendalian Pencemaran Pada Perikanan Rawa Lebak. Http://dinamuthmainah. blogspot.com/2009/12/pendekatan-holistik-dalam-pencegahan.html. [27 Maret 2011].

Susanto P. 2000.  Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.

Laporan Vitamin K

Mata Kuliah Fisiologi Manusia                                          Tanggal : 17 Januari 2010







VITAMIN K




Kelompok 6:
Anna Febritta Intan Sari          I14104023
Nur Latifah Hanum                 I14104024
Stacey Athalia Gunawan        I14104025
Destri Mulya Etika                  I14104026




Penanggung Jawab Praktikum:

dr. Vera Uripi S. Ked.



DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011


I.   PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Tubuh yang sehat membutuhkan asupan gizi dan nutrisi seimbang untuk menjalankan fungsi setiap bagian organ tubuh dengan baik dan menjaga agar tubuh tetap dalam kondisi sehat. Setiap bagian tubuh mempunyai peran dan fungsi sendiri-sendiri dan begitu juga dengan kebutuhan agar dapat bekerja dengan baik.
Karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa zat mineral telah dianggap sebagai zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk fungsi tubuh normal. Akan tetapi berbagai pengamatan menduga bahwa senyawa-senyawa organik lainnya adalah esensial untuk menjaga kesehatan. Telah diketahui bahwa proses pembekuan darah diperlukan trombokinase, Ca++, vitamin K, protrombin. Jika salah satu komponen tidak ada, proses pembekuan darah akan terhambat.
Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Vitamin tersebut pada umumnya dapat dikelompokkan kedalam dua golongan utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak yang meliputi vitamin A, D, E, dan K dan vitamin yang larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan vitamin B (Winarno  1986).
Vitamin K merupakan salah satu vitamin yang larut dalam lemak. Sekali diserap dalam, vitamin ini disimpan dalam hati melalui sistem limfe. Absorbsi membutuhkan cairan empedu dan pakreas. Seperti halnya lemak, vitamin juga memerlukan protein pengangkut untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air, maka vitamin K tidak dikeluarkan, akibatnya vitamin ini dapat ditimbun dalam tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Kekurangan vitamin K dapat terjadi terutam bila daya serap tubuh terhadap lemak tidak baik (Almatsier  2006).
Keberadaan vitamin K merupakan salah satu mikronutrien yang essensial bagi tubuh, sehingga informasi mengenai fungsi, metabolisme, absorpsi dan sumber-sumber makanan vitamin K. Selain itu, kekurangan dan kelebihan vitamin K perlu diketahui agar dapat menambah pengetahun tentang vitamin larut lemak, terutama vitamin K.


1.2   Tujuan
1.2.1  Tujuan Umum
Tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui gambaran vitamin K dalam tubuh.
1.2.2  Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari laporan ini adalah:
1.   Mengetahui definisi dan bentuk vitamin K
2.   Mengetahui sifat vitamin K
3.   Mengetahui fungsi vitamin K
4.   Mengetahui sumber-sumber vitamin K
5.   Mempelajari angka kecukupan vitamin K
6.   Memahami absorpsi dan transportasi vitamin K
7.   Mempelajari metabolisme vitamin K
8.   Mengetahui akibat kekurangan dan kelebihan vitamin K

II  TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Definisi dan Bentuk Vitamin K
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam proses pembekuan darah, seperti prothrombin, proconvertin, komponen thromboplastin plasma, dan Stuart-Power Factor. Vitamin K juga adalah sekelompok senyawa kimia yang terdiri atas filokuinon yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan menakuinon yang terdapat dalam minyak ikan dan daging. Menakuinon juga dapat disintesis oleh bakteri di dalam usus halus manusia (Sandjaja  2009).
Ada tiga bentuk vitamin K, yaitu: (1) Vitamin K1 (phytomenadione) yang tedapat pada sayuran hijau, (2) Vitamin K2 (menaquinone) yang dapat disintesis oleh flora usus normal seperti Bacteriodes fragilis dan beberapa strain Escherichia coli, (3) Vitamin K3 (menadione) merupakan vitamin K sintetis yang sekarang jarang diberikan pada bayi yang baru lahir (neonatus) karena dilaporkan dapat menyebabkan anemia hemolitik. Vitamin K3 ini bersifat larut dalam air, digunakan untuk penderita yang mengalami gangguan  penyerapan vitamin K  dari  makanan (Sandjaja  2009).
Nama kimia dari vitamin K1 adalah 2-metil-3fitil-1,4-naftokuinon. Produk sintesis vitamin K3 (menadion atau 2-metil-1,4-naftokuinon) memiliki kekuatan tiga kali disbanding vitamin K. Dukimarol adalah senyawa antagonik terhadap vitamin K (Winarno  1986).





Gambar 1. Struktur Kimia Vitamin K dalam  Tiga Bentuk
Menadion (vitamin K3), yaitu senyawa induk seri vitamin K, tidak ditemukan dalam bentuk alami tetapi jika diberikan, secara in vivo senyawa ini akan mengalami alkilasi menjadi  salah satu menakuinon (vitamin K2). Filokuinon (vitamin K1) merupakan bentuk utama vitamin K yang ada dalam tanaman.  Menakuinon–7 merupakan salah satu dari rangkaian bentuk tak jenuh polirenoid dari vitamin K yang ditemukan dalam jaringan binatang dan disintesis oleh bakteri dalam intestinum.

2.2   Sifat Vitamin K
Vitamin K larut dalam lemak dan tahan panas, tetapi mudah rusak oleh radiasi, asam, dan alkali. Vitamin K juga terdapat di alam dalam dua bentuk, keduanya terdiri atas cincin 2-metilnaftakinon dengan rantai samping. Vitamin K1 mempunyai rantai samping fitil. Vitamin K2 merupakan sekumpulan ikatan yang rantai sampingnya terdiri atas beberapa satuan isoprene (berjumlah 1 samping dengan 14 unit). Vitamin K3 terdiri atas naftakinon tanpa rantai samping, oleh karena itu mempunyai sifat larut air. Vitamin K atau metadion baru aktif secara biologis setelah mengalami alkalilasi didalam tubuh (Almatsier, 2006).

2.3   Fungsi Vitamin K
Vitamin ini merupakan kebutuhan vital untuk sintesis beberapa protein termasuk dalam pembekuan darah.  Disebut juga vitamin koagulasi, vitamin ini bertugas menjaga konsitensi aliran darah dan membekukannya saat diperlukan. Vitamin yang larut dalam lemak ini juga berperan penting dalam pembentukan tulang dan pemeliharaan ginjal. Selain berperan dalam pembekuan, vitamin ini juga penting untuk pembentukan tulang terutama jenis K1.   Vitamin K1 diperlukan supaya penyerapan kalsium bagi tulang menjadi maksimal  (Winarno  1986).
Vitamin K diperlukan untuk proses karboksilasi-gama pada residu glutamate untuk membentuk tiga protein kunci yang terdapat dalam tulang, termasuk osteokalsin, yang memiliki aktifitas tinggi dalam mengikat kalsium. Telah dilaporkan bahwa pada orang usia lanjut status vitamin K berbanding terbalik dengan resiko fraktur (Barasi  2007).
Vitamin K merupakan kofaktor enzim karboksilase yang mengubah residu protein berupa asam glutamate (glu) menjadi gama-karboksiglutamat (gla). Protein-protein ini dinamakan protein-tergantung vitamin K atau gla-protein. Enzim karboksilase yang menggunakan vitamin K sebagai kofaktor didapat di dalam membran hati dan tulang dan sedikit di lain jaringan. Gla-protein dengan mudah dapat mengikat ion kalsium. Kemampuan inilah yang merupakan aktivitas biologik vitamin K. Vitamin K sangat penting bagi pembentukan protombin. Kadar protombin yang tinggi didalam darah merupakan indikasi baiknya daya penggumpalan darah. Pada proses pembekuan darah, gama-karboksilasis terjadi di dalam hati pada residu asam glutamate yang terdapat pada berbagai faktor pembekuan darah, seperti factor II (Protrombin), VII, VIII, IX, dan X (Almatsier  2006).
Kemampuan gla-protein untuk mengikat kalsium merupakan langkah essensial dalam pembekuan darah. Gla protein lain yang mampu mengikat ion kalsium terdapat di dalam jaringan tulang dan gigi sebagai osteokalsin dan gla-protein matriks. Kedua jenis gla-protein ini mengikat hidroksiapatit yang diperlukan dalam pembentukan tulang. Tanpa vitamin K, tulang memproduksi protein yang tidak sempurna, sehingga tidak dapat mengikat mineral-mineral yang diperlukan dalam pembentukan tulang. Gla protein juga ditemukan pada jaringan tubuh lain seperti ginjal, pankreas, limpa, paru-paru, dan endapan aterosklerotik namun fungsinya belum diketahui dengan pasti. Gla protein di dalam otak diduga berperan dalam metabolisme sulfatida yang diperlukan untuk perkembangan otak (Almatsier  2006).


Gambar 2  Keterlibatan Vitamin K dalam Proses Pembekuan Darah

2.4   Sumber Vitamin K
Sistem pencernaan manusia sudah mengandung bakteri di dalam usus halus (jejunum dan ileum) yang mampu mensintesis vitamin K, yang sebagian diserap dan disimpan di dalam hati.  Akan tetapi tubuh masih perlu mendapat tambahan vitamin K dari makanan. Sumber utama  vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau, kacang buncis, kacang polong, kol dan brokoli. Semakin hijau daun-daunan semakin  tinggi kandungan vitamin K-nya. Bahan pangan lain yang mengandung vitamin K dalam jumlah lebih sedikit adalah susu, daging, telur, serealia, dan buah-buahan (pisang, jeruk, dan tomat) (Almatsier  2006)..
Teh juga merupakan sumber vitamin K yang baik. Dalam setiap gram teh terkandung sekitar 300-500 SI vitamin K. Berbagai pangan probiotik (yoghurt, yakult, kefir, dan dadih) yang mengandung bakteri bersifat menguntungkan kesehatan, ternyata bisa membantu menstimulasi produksi vitamin K di dalam usus besar (Purwanto, 2002).

Tabel 1  Kadar Vitamin K pada berbagai bahan pangan (µg/100 gram)
Bahan Makanan
µg
Bahan makanan
µg
Susu sapi
3
Asparagus
57
Keju
35
Buncis
14
Mentega
30
Brokoli
200
Ayam
11
Kol
125
Daging sapi
7
Daun selada
129
Hati sapi
92
Bayam
89
Hati ayam
7
Kentang
3
Minyak jagung
10
Tomat
5
Jagung
5
Pisang
2
Gandum
5
Jeruk
1
Tepung terigu
4
Kopi
38
Roti
4
Teh hijau
712
Sumber : R.E. Olson, 1973 dalam Wilson, E.D, K.H. Fisher dan P.A. Gracia, Principle of Nutrition, 1979, hlm. 194.

Air Susu Ibu (ASI) tidak banyak mengandung vitamin K, sedangkan bakteri yang dapat mensintesis vitamin K tidak segera tersedia di dalam saluran cerna bayi. Untuk mencegah terjadinya gangguan penggumpalan darah yang dapat menyebabkan perdarahan, bayi baru lahir dianjurkan mendapat vitamin K melalui mulut atau injeksi intramuscular. Susu formula bayi sebaiknya difortifikasi dengan vitamin K (Almatsier  2006).

2.5   Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Menurut standar RDA (Recommended  Dietary Allowance), kebutuhan vitamin K seseorang tergantung dari berat badannya.  Untuk dewasa, setidaknya membutuhkan 1 mikrogram setiap hari per kg berat badan.  Jadi, kalau berat badan Anda 50 kg maka kebutuhan perharinya mencapai 50 mikrogram. Angka kecukupan vitamin K yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2 (Almatsier  2006).
Tabel 2  Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan untuk Vitamin K
Golongan umur
AKG (mkg)
0-6 bulan
5
7-12 bulan
10
1-3 tahun
15
4-9 tahun
20
Pria
10-12 tahun
45
13-15 tahun
65
16-19 tahun
70
≥ 20 tahun
80
Wanita
10-12 tahun
45
13-15 tahun
55
16-19 tahun
60
≥ 20 tahun
65
Hamil
65
Menyusui 0-6 bln
65
Menyusui 7-12 bln
65
Sumber: Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998)


2.6   Absorpsi dan Transportasi Vitamin K
Vitamin K bekerja sebagai kofaktor enzim karboksilase yang membentuk residu  γ – karboksiglutamat dalam protein precursor. Reaksi karboksilase  yang tergantung vitamin K terjadi dalam retikulum endoplasmic banyak jaringan dan memerlukan oksigen  molekuler,  karbondioksida serta hidrokuinon ( tereduksi ) vitamin K  dan di dalam siklus ini, produk 2,3 epoksida dari reaksi karboksilase diubah oleh enzim 2,3 epoksida reduktase menjadi bentuk kuinon vitamin K dengan menggunakan zat pereduksi  ditiol yang  masih belum  teridentifikasi. Reduksi selanjutnya bentuk kuinon menjadi hidrokuinon oleh NADH melengkapi siklus vitamin K untuk menghasilkan kembali bentuk aktif vitamin tersebut (Rusdiana 2004).
Sebanyak 50-80 persen vitamin K di dalam usus diserap dengan bantuan asam empedu dan cairan pankreas. Setelah diserap di dalam usus halus bagian atas, vitamin K dikaitkan dengan kilomikron untuk diangkut melalui sistem limfa ke hati. Hati merupakan tempat penyimpanan vitamin K utama di dalam tubuh. Kemudian, vitamin K diangkut oleh lipoprotein VLDL plasma dari hati menuju ke berbagai sel tubuh. Karena vitamin K bersifat larut dalam lemak, hal-hal yang menghambat penyerapan lemak secara otomatis juga akan menurunkan penyerapan vitamin K (Almatsier  2006).
Dalam keadaan normal, sebanyak 30-40 persen dari vitamin K yang diserap akan dikeluarkan melalui empedu, dan 15 persen melalui urin sebagai metabolit larut air. Simpanan vitamin K di dalam tubuh tidak banyak dan pergantiannya terjadi dengan cepat. Simpanan di dalam hati sebanyak 10 persen berupa filokuinon dan 90 persen berupa menakuinon, yang kemungkinan disintesis oleh bakteri pada saluran pencernaan. Namun, kebutuhan akan vitamin K tampaknya tidak dapat hanya dipenuhi dari sintesis menakuinon, diperlukan juga diperoleh dari makanan (Almatsier  2006).

2.7   Metabolisme Vitamin K
Sebagaimana vitamin yang larut lemak lainnya, penyerapan vitamin K dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan lemak, antara lain cukup tidaknya sekresi empedu dan pankreas yang diperlukan untuk penyerapan vitamin K. Hanya sekitar 40 -70% vitamin K dalam makanan dapat diserap oleh usus. Setelah diabsorbsi, vitamin K digabungkan dengan kilomikron, diangkut melalui saluran limfatik, kemudian melalui saluran darah ditranportasi ke hati. Sekitar 90% vitamin K yang sampai di hati disimpan dalam bentuk menaquinone. Dari hati, vitamin K disebarkan ke seluruh jaringan tubuh yang memerlukan melalui darah. Saat di darah, vitamin K bergabung dengan VLDL dalam plasma darah (Rusdiana 2004).
Setelah disirkulasikan berkali-kali, vitamin K dimetabolisme menjadi komponen larut air dan produk asam empedu terkonjugasi. Selanjutnya, vitamin K diekskresikan melalui urin dan feses. Sekitar 20% dari vitamin K diekskresikan melalui feses. Pada gangguan penyerapan lemak, ekskresi vitamin K bisa mencapai 70 -80 % (Rusdiana 2004).

2.8   Kekurangan dan Kelebihan Vitamin K
Kekurangan vitamin K menyebabkan darah tidak dapat menggumpal, sehingga bila ada luka atau pada operasi terjadi perdarahan. Kekurangan vitamin K karena makanan jarang terjadi, sebab vitamin K terdapat secara luas dalam makanan. Kekurangan vitamin K terjadi bila ada gangguan absorpsi lemak (bila produksi empedu kurang atau pada diare). Kekurangan vitamin K bisa juga terjadi bila seorang mendapat antibiotika sedangkan tubuhnya kurang mendapat vitamin K dari makanan. Antibiotika membunuh bakteri di dalam usus yang membentuk vitamin K. Oleh karena itu, sebelum operasi biasanya diperiksa terlebih dahulu kemampuan darah untuk menggumpal dan sebagai pencegahan diberi suntikan vitamin K. Vitamin K biasanya diberikan sebelum operasi untuk mencegah perdarahan berlebihan (Almatsier  2006).
Jika vitamin K tidak terdapat dalam tubuh, darah tidak dapat membeku. Hal ini dapat meyebabkan pendarahan atau hemorrhargia.  Bagaimanapun, kekurangan vitamin K jarang terjadi  karena hampir semua orang memperolehnya dari bakteri dalam usus dan dari makanan.  Namun kekurangan bisa terjadi pada bayi karena sistem pencernaan mereka masih steril dan tidak mengandung bakteri yang dapat mensintesis vitamin K, sedangkan air susu ibu mengandung hanya sejumlah kecil vitamin K. Untuk itu bayi diberi sejumlah vitamin K saat lahir (Rahayu  2008).
Pada orang dewasa, kekurangan dapat terjadi karena sedikitnya konsumsi sayuran atau mengonsumsi antobiotik terlalu lama.  Antibiotik dapat membunuh bakteri menguntungkan dalam usus yang memproduksi vitamin K. Terkadang kekurangan vitamin K disebabkan oleh penyakit liver atau masalah pencernaan dan kurangnya garam empedu (Purwanto 2002).
Aspirin berlebihan dapat mencegah pembekuan darah normal dengan mengganggu pembentukan platelet dan faktor-faktor tergantung vitamin K. Diagnosa adanya defisiensi vitamin K adalah timbulnya gejala-gejala, antara lain hipoprotrombinemia, yaitu suatu keadaan adanya defisiensi protrombin dalam darah. Selain itu, terlihat pula perdarahan subkutan dan intramuskuler (Almatsier  2006).
Kelebihan vitamin K hanya bisa terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan berupa vitamin K sintetik menadion. Gejala kelebihan vitamin K adalah anemia hemolisis, hiperbilirubinemia, kern ikterus, sakit kuning (jaundice) dan kerusakan pada otak (Almatsier  2006).


3.1  Batasan Istilah

Absorpsi adalah proses penyerapan makanan dari saluran pencernaan yang selanjutnya dipindahkan ke sistem kardiovaskuler dan limfa untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
Anemia hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah.
Hemorrhargia adalah keluarnya eritrosit (darah) dari pembuluh darah, karena pecahnya dindng pembuluh darah setempat.
Kilomikron adalah ikatan lipoprotein besar, yang disintesis dalam mukosa usus, dikeluarkan ke limfe intestinal, selanjutnya masuk ke dalam plasma darah sitemik tanpa melalui hati.
Koagulasi adalah proses dimana berbagai faktor pembekuan darah berinteraksi, yang akhirnya membentuk bekuan fibrin yang tak larut.
Protrombin adalah protein yang larut dalam plasma darah, yang bila terjadi luka bersama dengan ion kalsium membentuk trombin, yang mengaktifkan fibrinogen menjadi fibrin.
Proconvertin adalah faktor koagulasi yang dibentuk dalam ginjal dibawah pengaruh vitamin.
VLDL (Very Low Density Lipoprotein) adalah ikatan lipoprotein dengan densitas sangat rendah, disintesis hati, memasuki plasma dan diedarkan ke seluruh tubuh.



IV. KESIMPULAN
1.   Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, terdapat dalam 3 bentuk   yaitu Vitamin K1 (phytomenadione), Vitamin K2 (menaquinone) dan Vitamin K3 (menadione).
2.    Vitamin K tahan terhadap panas, tetapi mudah rusak oleh radiasi, asam, dan alkali.
3.    Fungsi vitamin K adalah menjaga konsitensi aliran darah, membantu pembekuan darah saat diperlukan, memaksimalkan penyerapan kalsium, dan proses karboksilasi-gama pada residu glutamate dalam pembentukan tulang.
4.    Sumber-sumber vitamin K adalah hati, sayuran daun berwarna hijau seperti kol dan brokoli serta bakteri di dalam usus halus (jejunum dan ileum) juga mampu mensintesis vitamin K.
5.    Standar kecukupan vitamin K seseorang tergantung dari berat badannya, untuk dewasa 1mikrogram setiap hari per kg berat badan.
6.    Absorpsi vitamin K dipengaruhi sekresi empedu dan cairan pankreas. Setelah vitamin K diserap oleh usus halus, kemudian dikaitkan dengan kilomikron serta ditransportasikan ke hati melalui sistem limfe. Kemudian diangkut oleh VLDL ke seluruh tubuh.
7.    Vitamin K dimetabolisme menjadi komponen larut air dan produk asam empedu terkonjugasi. Selanjutnya, vitamin K diekskresikan melalui urin dan feses.
8.    Kekurangan vitamin K terjadi apabila terdapat gangguan absorbsi lemak sehingga hipotrombinemia menyebabkan darah sukar membeku dan pendarahan atau hemorrhargia. Kelebihan vitamin K adalah anemia hemolitik, hiperbilirubinemia, kern ikterus dan kerusakan pada otak.


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Barasi, M. 2007. At a Glance Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hermaya, T. 1992. Ensiklopedi Kesehatan. Jakarta: PT.Cipta Adi Kusuma
Purwanto. 2002. Data Obat di Indonesia. Jakarta : Grafidian
Rahayu. 2008. Vitamin K. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Rusdiana. 2004. Vitamin. Sumatera Utara : Penerbit Universitas Sumatera Utara.
Sandjaja. 2009. Kamus Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Wilson, E.D., K.H. Fisher dan P.A. Gracia. 1979. Principle of Nutrition. New York: John Wiley & Son,ed.

Winarno, F.G. 1986. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.



LAMPIRAN


Hasil Diskusi

1)  Mengapa seseorang dapat mengalami kelebihan vitamin K? Apakah yang akan terjadi bila terjadi kelebihan vitamin K? (Penanya: Maharani Zulfrina Rahma-I14104035).
Jawab : Kelebihan vitamin K hanya bisa terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan berupa vitamin K sintetik menadion. Vitamin K merupakan yang larut dalam lemak sehingga vitamin ini disimpan dalam hati dalam bentuk menaquinone (vitamin K1). Gejala kelebihan vitamin K adalah anemia hemolisis, hiperbilirubinemia, kern ikterus, sakit kuning (jaundice) dan kerusakan pada otak.
2)  Apakah perbedaan jenis vitamin K (vitamin K1, vitamin K2 dan vitamin K3) berdasarkan sumber, mekanisme absorpsi dan fungsinya? (Penanya: Yudhi Adrianto-I14104004).
Jawab :
a.    Vitamin K1 (phytomenadione) yang tedapat pada sayuran hijau,  diabsorpsi secara aktif di jejunum, dan berperan dalam penyerapan kalsium untuk pembentukan tulang secara maksimal.
b.    Vitamin K2 (menaquinone) yang dapat disintesis oleh bakteri seperti Bacteriodes fragilis dan beberapa strain Escherichia coli, diabsorpsi secara pasif dibagian distal usus besar (kolon), dan berperan dalam proses pembekuan darah.
c.    Vitamin K3 (menadione) merupakan vitamin K sintetis atau buatan, diabsorpsi secara pasif dibagian distal usus besar (kolon), dan berperan dalam proses pembekuan darah.
3)  Apa yang dapat menyebabkan absorpsi vitamin K terganggu? (Penanya: Erni Lestari-I14104027)
Jawab : Absorpsi vitamin K dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan lemak sehingga bila terjadi hambatan penyerapan lemak makan akan menurunkan juga penyerapan vitamin K misalnya bila produksi empedu kurang atau statorhea. Selain itu juga, sedikitnya konsumsi sayuran atau mengonsumsi antobiotik berlebih dapat membunuh bakteri dalam usus besar yang berfungsi mensintesis vitamin K sehingga dapat menyebabkan defisiensi vitamin K.